Notification

×

Ketika Dolar Berbicara, Rakyat yang Mendengar

Minggu, 28 Juni 2026 | 16.27 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-28T09:27:28Z

 

Ketika Dolar Berbicara, Rakyat yang Mendengar

Essay Opini | Ekonomi & Kebijakan

Saya masih ingat betul percakapan dengan seorang pedagang sembako di pasar dekat rumah, beberapa pekan lalu. Ia mengeluh, harga minyak goreng naik lagi. “Padahal saya tidak beli barang dari Amerika,” katanya, sambil tertawa kecil. Lucunya, justru di situ letak masalahnya. Ia tidak perlu bertransaksi langsung dengan Amerika untuk merasakan sengatannya. Dolar sudah lebih dulu menyelinap masuk ke dalam harga-harga yang ia jual setiap pagi.

Kenaikan dolar bukan sekadar angka yang berkedip di layar televisi atau notifikasi yang diabaikan begitu saja. Ia bekerja diam-diam, perlahan mengikis daya beli dari bawah, sementara para pejabat masih sibuk bicara soal proyeksi dan target pertumbuhan yang terdengar jauh dari kenyataan pasar. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Wantimpres RI, nilai tukar rupiah pada akhir Mei 2026 sempat menyentuh level Rp17.906 per dolar AS angka yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi sinyal nyata bahwa tekanan ini bukan sekadar siklus biasa.

Dolar Naik, Siapa yang Rugi?

Indonesia bukan negara yang bisa berdiri sendiri dalam hal kebutuhan pokok. Gandum, kedelai, bahan bakar, bahan baku industry semuanya kita beli dari luar, dengan dolar. Jadi ketika dolar naik, rantai harganya ikut naik dari hulu ke hilir. Produsen menyesuaikan, distributor meneruskan, dan ujung-ujungnya konsumen yang membayar selisihnya. Menurut laporan Bank Indonesia, setiap depresiasi nilai tukar sebesar 1 persen terhadap dolar AS dapat mendorong inflasi impor hingga 0,2–0,3 persen dalam jangka pendek angka yang tampak kecil, tetapi terasa besar bagi mereka yang hidup pas-pasan.

Yang menarik atau lebih tepatnya, yang menyedihkan adalah siapa yang paling menanggung beban itu. Bukan konglomerat yang sudah punya tim keuangan khusus untuk melindungi aset mereka dari gejolak kurs. Bukan investor yang dengan mudah memindahkan dana ke instrumen yang lebih aman. Yang paling terpukul justru mereka yang tidak punya pilihan: ibu rumah tangga dengan belanja harian yang sudah terbatas, pelaku warung kecil yang tidak kenal istilah hedging, dan buruh yang gajinya tetap sementara harga-harga terus merangkak.

Ini bukan soal siapa yang lebih paham ekonomi. Ini soal siapa yang punya bantalan, dan siapa yang tidak.

Kalau ditanya mengapa dolar terus menguat, para ekonom biasanya menyebut beberapa hal. Salah satunya kebijakan suku bunga Amerika ketika The Fed menaikkan bunga, uang investor mengalir balik ke sana karena dianggap lebih menguntungkan. Modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia, dan rupiah pun tertekan. Sepanjang semester pertama 2024 saja, rupiah tercatat melemah hampir 5,92 persen, sebagaimana dilaporkan berbagai media ekonomi nasional.

Lalu ada soal defisit transaksi berjalan. Kita lebih banyak mengeluarkan dolar daripada yang masuk untuk impor energi, membayar utang luar negeri, sampai dividen perusahaan asing yang dikirim ke negara asalnya. Berdasarkan data yang dipublikasikan pada awal 2025, utang luar negeri Indonesia telah mencapai 427,5 miliar dolar AS. Dengan nilai tukar yang terus melemah, beban pembayaran utang tersebut dalam rupiah otomatis membengkak, dan tekanan itu pada akhirnya ikut dirasakan oleh seluruh lapisan ekonomi.

Dan satu hal lagi yang jarang disebut: kepercayaan. Pasar itu sensitif. Satu kabar buruk, satu kebijakan yang dianggap keliru, atau satu pernyataan pejabat yang membingungkan bisa langsung dibaca pasar sebagai sinyal untuk melepas rupiah. Kepercayaan itu rapuh, dan sekali retak, mahal harganya.

Kita sudah terlalu terbiasa menyalahkan “pasar” setiap kali rupiah melemah, seolah itu fenomena alam yang tidak bisa dicegah. Padahal negara-negara yang nilai tukarnya relatif stabil bukan karena keberuntungan mereka bekerja untuk itu. Mereka tidak bergantung pada satu komoditas, mereka membangun industri dalam negeri, dan kebijakan fiskalnya dapat diprediksi.

Indonesia punya modal. Sumber daya alam melimpah, cadangan devisa cukup memadai. Tetapi selama hilirisasi masih berjalan di tempat, selama kebijakan industri masih tidak konsisten, dan selama pelaku usaha kecil tidak punya perlindungan nyata saat kurs bergejolak kita akan terus terjebak dalam siklus yang sama: terkejut saat dolar naik, lega sesaat saat turun, lalu terkejut lagi.

Lantas, apa yang bisa dilakukan? Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia perlu lebih tegas dan konsisten dalam menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melalui intervensi pasar yang terukur dan komunikasi publik yang jernih. Ketidakpastian informasi dari otoritas moneter sama berbahayanya dengan gejolak eksternal itu sendiri. Kebijakan suku bunga acuan juga perlu dikelola secara hati-hati terlalu rendah membuat modal asing lari, terlalu tinggi menekan dunia usaha dalam negeri.

Di sisi pemerintah, program hilirisasi sumber daya alam perlu dipercepat secara nyata, bukan hanya retorika. Ketika ekspor kita tidak lagi bergantung pada komoditas mentah, penerimaan devisa akan lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh fluktuasi harga global. Selain itu, insentif bagi industri manufaktur berbasis bahan baku lokal perlu diperkuat agar ketergantungan pada impor bahan baku dapat dikurangi secara bertahap. Substitusi impor bukan slogan ia adalah proyek jangka panjang yang butuh komitmen anggaran, regulasi yang konsisten, dan ekosistem industri yang mendukung.

Bagi pelaku usaha, terutama mereka yang mengandalkan bahan baku impor, sudah saatnya mulai mempertimbangkan instrumen lindung nilai sebagai bagian dari manajemen risiko bisnis. Ketergantungan pada fluktuasi kurs tanpa perlindungan apapun adalah kerentanan yang bisa dicegah. Pemerintah pun perlu hadir dengan memberikan akses yang lebih terjangkau terhadap instrumen keuangan semacam ini, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang selama ini luput dari perhatian.

Di level masyarakat, kenaikan dolar seharusnya menjadi pengingat kolektif bahwa ketergantungan kita pada produk impor adalah pilihan yang bisa kita ubah secara perlahan. Memilih produk lokal, mendukung petani dan pelaku usaha kecil di sekitar kita, adalah bentuk partisipasi nyata dalam menjaga ketahanan ekonomi bangsa. Langkah ini terkesan sederhana, tetapi jika dilakukan secara kolektif dan konsisten, dampaknya tidak bisa diremehkan.

Kembali ke pedagang sembako tadi. Baginya, dolar bukan istilah ekonomi itu soal apakah hari ini dia masih bisa memperoleh keuntungan atau harus menanggung kerugian. Soal apakah bulan depan anaknya masih bisa bersekolah. Soal bertahan atau tidak.

Selama kita membaca berita kenaikan dolar lalu menutup aplikasi dan melanjutkan hari, kita belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Dan selama itu pula, kita belum sungguh-sungguh serius membangun ekonomi yang tahan banting.


Tentang Penulis

Rahmat Ari Setio Warso  Mahasiswa Tadris Matematika | UIN SAIZU Purwokerto

Mahasiswa yang menaruh perhatian pada isu sosial-ekonomi dan percaya bahwa berpikir kritis adalah tanggung jawab setiap warga negara.