Ketika Dolar Berbicara, Rakyat yang Mendengar
Essay Opini | Ekonomi & Kebijakan
Saya masih ingat betul percakapan dengan seorang
pedagang sembako di pasar dekat rumah, beberapa pekan lalu. Ia mengeluh, harga
minyak goreng naik lagi. “Padahal saya tidak beli barang dari Amerika,”
katanya, sambil tertawa kecil. Lucunya, justru di situ letak masalahnya. Ia
tidak perlu bertransaksi langsung dengan Amerika untuk merasakan sengatannya.
Dolar sudah lebih dulu menyelinap masuk ke dalam harga-harga yang ia jual
setiap pagi.
Kenaikan dolar bukan sekadar angka yang berkedip di
layar televisi atau notifikasi yang diabaikan begitu saja. Ia bekerja
diam-diam, perlahan mengikis daya beli dari bawah, sementara para pejabat masih
sibuk bicara soal proyeksi dan target pertumbuhan yang terdengar jauh dari
kenyataan pasar. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Wantimpres RI, nilai
tukar rupiah pada akhir Mei 2026 sempat menyentuh level Rp17.906 per dolar AS angka
yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi sinyal
nyata bahwa tekanan ini bukan sekadar siklus biasa.
Dolar Naik, Siapa yang Rugi?
Indonesia bukan negara yang bisa berdiri sendiri dalam
hal kebutuhan pokok. Gandum, kedelai, bahan bakar, bahan baku industry semuanya
kita beli dari luar, dengan dolar. Jadi ketika dolar naik, rantai harganya ikut
naik dari hulu ke hilir. Produsen menyesuaikan, distributor meneruskan, dan
ujung-ujungnya konsumen yang membayar selisihnya. Menurut laporan Bank
Indonesia, setiap depresiasi nilai tukar sebesar 1 persen terhadap dolar AS
dapat mendorong inflasi impor hingga 0,2–0,3 persen dalam jangka pendek angka
yang tampak kecil, tetapi terasa besar bagi mereka yang hidup pas-pasan.
Yang menarik atau lebih tepatnya, yang menyedihkan adalah
siapa yang paling menanggung beban itu. Bukan konglomerat yang sudah punya tim
keuangan khusus untuk melindungi aset mereka dari gejolak kurs. Bukan investor
yang dengan mudah memindahkan dana ke instrumen yang lebih aman. Yang paling
terpukul justru mereka yang tidak punya pilihan: ibu rumah tangga dengan
belanja harian yang sudah terbatas, pelaku warung kecil yang tidak kenal
istilah hedging, dan buruh yang gajinya tetap sementara harga-harga terus
merangkak.
Ini bukan soal siapa yang lebih paham ekonomi. Ini soal
siapa yang punya bantalan, dan siapa yang tidak.
Kalau ditanya mengapa dolar terus menguat, para ekonom
biasanya menyebut beberapa hal. Salah satunya kebijakan suku bunga Amerika ketika
The Fed menaikkan bunga, uang investor mengalir balik ke sana karena dianggap
lebih menguntungkan. Modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia, dan
rupiah pun tertekan. Sepanjang semester pertama 2024 saja, rupiah tercatat
melemah hampir 5,92 persen, sebagaimana dilaporkan berbagai media ekonomi
nasional.
Lalu ada soal defisit transaksi berjalan. Kita lebih
banyak mengeluarkan dolar daripada yang masuk untuk impor energi, membayar
utang luar negeri, sampai dividen perusahaan asing yang dikirim ke negara
asalnya. Berdasarkan data yang dipublikasikan pada awal 2025, utang luar negeri
Indonesia telah mencapai 427,5 miliar dolar AS. Dengan nilai tukar yang terus
melemah, beban pembayaran utang tersebut dalam rupiah otomatis membengkak, dan
tekanan itu pada akhirnya ikut dirasakan oleh seluruh lapisan ekonomi.
Dan satu hal lagi yang jarang disebut: kepercayaan.
Pasar itu sensitif. Satu kabar buruk, satu kebijakan yang dianggap keliru, atau
satu pernyataan pejabat yang membingungkan bisa langsung dibaca pasar sebagai
sinyal untuk melepas rupiah. Kepercayaan itu rapuh, dan sekali retak, mahal
harganya.
Kita sudah terlalu terbiasa menyalahkan “pasar” setiap
kali rupiah melemah, seolah itu fenomena alam yang tidak bisa dicegah. Padahal
negara-negara yang nilai tukarnya relatif stabil bukan karena keberuntungan mereka
bekerja untuk itu. Mereka tidak bergantung pada satu komoditas, mereka
membangun industri dalam negeri, dan kebijakan fiskalnya dapat diprediksi.
Indonesia punya modal. Sumber daya alam melimpah,
cadangan devisa cukup memadai. Tetapi selama hilirisasi masih berjalan di
tempat, selama kebijakan industri masih tidak konsisten, dan selama pelaku
usaha kecil tidak punya perlindungan nyata saat kurs bergejolak kita akan terus
terjebak dalam siklus yang sama: terkejut saat dolar naik, lega sesaat saat
turun, lalu terkejut lagi.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Dari sisi kebijakan,
Bank Indonesia perlu lebih tegas dan konsisten dalam menjaga stabilitas nilai
tukar, termasuk melalui intervensi pasar yang terukur dan komunikasi publik
yang jernih. Ketidakpastian informasi dari otoritas moneter sama berbahayanya
dengan gejolak eksternal itu sendiri. Kebijakan suku bunga acuan juga perlu
dikelola secara hati-hati terlalu rendah membuat modal asing lari, terlalu
tinggi menekan dunia usaha dalam negeri.
Di sisi pemerintah, program hilirisasi sumber daya alam
perlu dipercepat secara nyata, bukan hanya retorika. Ketika ekspor kita tidak
lagi bergantung pada komoditas mentah, penerimaan devisa akan lebih stabil dan
tidak mudah terguncang oleh fluktuasi harga global. Selain itu, insentif bagi
industri manufaktur berbasis bahan baku lokal perlu diperkuat agar
ketergantungan pada impor bahan baku dapat dikurangi secara bertahap.
Substitusi impor bukan slogan ia adalah proyek jangka panjang yang butuh
komitmen anggaran, regulasi yang konsisten, dan ekosistem industri yang
mendukung.
Bagi pelaku usaha, terutama mereka yang mengandalkan
bahan baku impor, sudah saatnya mulai mempertimbangkan instrumen lindung nilai
sebagai bagian dari manajemen risiko bisnis. Ketergantungan pada fluktuasi kurs
tanpa perlindungan apapun adalah kerentanan yang bisa dicegah. Pemerintah pun
perlu hadir dengan memberikan akses yang lebih terjangkau terhadap instrumen
keuangan semacam ini, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah
yang selama ini luput dari perhatian.
Di level masyarakat, kenaikan dolar seharusnya menjadi
pengingat kolektif bahwa ketergantungan kita pada produk impor adalah pilihan
yang bisa kita ubah secara perlahan. Memilih produk lokal, mendukung petani dan
pelaku usaha kecil di sekitar kita, adalah bentuk partisipasi nyata dalam
menjaga ketahanan ekonomi bangsa. Langkah ini terkesan sederhana, tetapi jika
dilakukan secara kolektif dan konsisten, dampaknya tidak bisa diremehkan.
Kembali ke pedagang sembako tadi. Baginya, dolar bukan
istilah ekonomi itu soal apakah hari ini dia masih bisa memperoleh keuntungan
atau harus menanggung kerugian. Soal apakah bulan depan anaknya masih bisa
bersekolah. Soal bertahan atau tidak.
Selama kita membaca berita kenaikan dolar lalu menutup
aplikasi dan melanjutkan hari, kita belum benar-benar memahami apa yang sedang
terjadi. Dan selama itu pula, kita belum sungguh-sungguh serius membangun
ekonomi yang tahan banting.
Tentang Penulis
Rahmat Ari Setio Warso | Mahasiswa Tadris Matematika | UIN SAIZU Purwokerto
Mahasiswa yang menaruh perhatian pada isu sosial-ekonomi dan percaya bahwa berpikir kritis adalah tanggung jawab setiap warga negara.