Pejuang Laju: Cerita di Balik Jarak 74 Kilometer
Sumpiuh – Purwokerto, banyak orang menganggap bahwa perjuangan seorang mahasiswa hanya berkisar pada mendengarkan dosen di kelas, mengerjakan tugas yang numpuk, atau begadang untuk mempersiapkan ujian. Padahal, bagi Sebagian mahasiswa, perjuangan telah dimulai jauh sebelum mereka melangkahkan kaki ke lingkungan kampus. Bahkan, sebelum dosen pertama memasuki ruang perkuliahan dan memulai pembelajaran. Saya termasuk salah satu mahasiswa yang merasakan perjuangan tersebut setiap hari.
Rumah saya berada di Kecamatan
Sumpiuh, sedangkan kampus tempat saya menempuh Pendidikan berada di Purwokerto.
Jarak satu kali perjalanan mencapai sekitar 37 kilometer. Jika dihitung pulang-pergi,
total jarak yang mesti saya tempuh setiap hari mencapai 74 kilometer. Bagi Sebagian
orang, angka tersebut mungkin hanya deretan angka yang tertera pada aplikasi
peta digital atau odometer kendaraan. Namun, bagi saya, angka tersebut
merupakan saksi bisu dari sebuah proses penjang yang harus dilalui demi menuntut
ilmu dan meraih masa depan yang lebih baik.
rutinitas ini telah
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak dapat saya hindari. Ketika
Sebagian besar teman kuliah masih beristirahat di rumah atau baru memulai
aktifitas pagi, saya sudah siap untuk berangkat. Saat matahari mulai menampakan
sinarnya, saya memanaskan sepeda motor, mengenakan jaket, sarung tangan, dan
helm, lalu memulai perjalanan menuju kampus.
Ketika roda kendaraan
mulai meninggalkan halaman rumah, suasana pedesaan Sumpiuh yang masih tenang
menjadi pemandangan pertama yang menyambut saya. Udara pagi yang sejuk terasa
menyegarkan. Hamparan sawah yang membentang di sisi kanan dan kiri jalan menghadirkan
panorama yang menenangkan. Sesekali, kabut tipis masih terlihat menggantung di
atas permukaan tanah. Pemandangan tersebut memberikan kesan seolah saya sedang
menikmati perjalanan wisata. Namun, di balik keindahan itu, saya sadar bahwa
perjalanan panjang dan berbagai tantangan telah menanti di depan.
Salah satu tantangan
yang harus saya hadapi setiap hari adalah jalur Alasmalang. Bagi para pengguna
jalan yang sering melintas di kawasan tersebut, nama Alasmalang tentu sudah
tidak asing lagi. Jalur ini dikenal memiliki tanjakan yang cukup curam, tikungan
yang berliku, dan tingkat risiko kecelakaan yang relatif tinggi. Oleh karena
itu, konsentrasi penuh menjadi syarat utama ketika melintasi kawasan tersebut. Tidak
boleh ada sedikit pun kelengahan. Tangan harus sigap mengendalikan gas dan rem,
sementara mata terus memperhatikan kondisi lalu lintas di sekitar. Kendaraan
yang berjalan lambat, pengendara yang mendahului secara tiba-tiba, maupun
kendaraan dari arah berlawanan yang terkadang melewati marka jalan harus selalu
diwaspadai. Selain itu, saya juga harus memastikan bahwa kondisi sepeda motor
dalam keadaan prima, mulai dari sistem pengereman, rantai, hingga tekanan ban.
Kesalahan kecil saja dapat berakibat fatal. Karena itulah, saya menganggap
Alasmalang sebagai ujian pertama sebelum benar-benar duduk di bangku
perkuliahan.
Setelah berhasil
melewati Alasmalang, suasana perjalanan berubah secara drastis ketika memasuki
kawasan Pasar Muria. Ketenangan pagi perlahan berganti dengan hiruk-pikuk aktivitas
masyarakat. Jalanan menjadi lebih padat oleh kendaraan para pedagang, pembeli,
dan pengguna jalan lainnya. Terkadang ada kendaraan yang berhenti mendadak,
pejalan kaki yang menyeberang tanpa diduga, atau kemacetan yang muncul akibat
padatnya aktivitas pasar.
Meski demikian,
pemandangan tersebut justru memberikan pelajaran berharga bagi saya. Melihat
banyak orang yang bekerja keras sejak pagi untuk mencari nafkah membuat saya
semakin bersyukur dan termotivasi untuk menjalani hari dengan penuh semangat.
Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam
menjalani kehidupan.
Dari Pasar Muria,
perjalanan berlanjut menuju Alun-Alun Banyumas hingga akhirnya saya tiba di
salah satu bagian perjalanan yang paling saya sukai, yaitu Jembatan Serayu.
Bagi saya, melintasi jembatan ini selalu menghadirkan ketenangan tersendiri.
Dari atas jembatan, saya dapat melihat aliran Sungai Serayu yang membentang
luas. Pada pagi hari, cahaya matahari yang memantul di permukaan air
menciptakan pemandangan yang indah dan menyejukkan mata.
Meskipun hanya
berlangsung beberapa saat karena perjalanan harus terus dilanjutkan, momen
tersebut selalu menjadi jeda yang menyegarkan. Setelah melewati ketegangan di
Alasmalang dan kepadatan lalu lintas di kawasan pasar, pemandangan Sungai
Serayu seolah mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan yang melelahkan selalu
memiliki sisi indah yang patut dinikmati.
Setelah meninggalkan
Jembatan Serayu, perjalanan berlanjut menuju Patikraja. Di wilayah ini, volume
kendaraan mulai meningkat karena semakin banyak pengguna jalan yang menuju
Purwokerto. Jalan yang semakin ramai menuntut kesabaran dan kewaspadaan yang lebih
tinggi. Setelah melewati beberapa persimpangan dan kepadatan lalu lintas
perkotaan, akhirnya bangunan kampus mulai terlihat di kejauhan. Saat itulah
muncul perasaan lega karena satu tahap perjalanan telah berhasil saya lalui.
Dalam kondisi cuaca
cerah dan lalu lintas yang normal, perjalanan sejauh 37 kilometer biasanya
dapat ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit. Namun, kondisi jalan raya tidak
selalu dapat diprediksi. Kemacetan, kecelakaan, maupun cuaca buruk sering kali
membuat waktu tempuh menjadi lebih lama.
Tantangan terbesar
biasanya datang ketika hujan turun secara tiba-tiba. Saya harus menepi untuk
mengenakan jas hujan sambil berusaha melindungi barang bawaan agar tidak basah.
Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan dengan lebih hati-hati karena jalan menjadi
licin dan jarak pandang berkurang. Belum lagi adanya genangan air yang dapat
menyembunyikan lubang jalan. Dalam kondisi seperti itu, waktu tempuh perjalanan
dapat bertambah hingga lebih dari satu setengah jam.
Menjalani kehidupan
sebagai mahasiswa laju tentu bukan hal yang mudah. Tidak jarang rasa lelah
sudah terasa bahkan sebelum perkuliahan dimulai. Ketika berada di dalam kelas,
saya harus berusaha menjaga fokus meskipun energi telah banyak terkuras selama
perjalanan.
Begitu pula ketika sore
hari tiba. Setelah mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan mengikuti
berbagai kegiatan organisasi, saya masih harus menempuh perjalanan panjang
untuk kembali ke rumah. Terik matahari, debu jalanan, serta kepadatan lalu lintas
sering kali menjadi tantangan tambahan yang harus dihadapi.
Namun, setiap kali
keluhan mulai muncul, saya selalu berusaha mengingat alasan mengapa memilih
menjalani kehidupan sebagai mahasiswa laju. Salah satu alasannya adalah agar
tetap dapat tinggal bersama keluarga dan mengurangi beban biaya hidup yang
harus dikeluarkan apabila memilih indekos. Pilihan tersebut tentu memiliki
konsekuensi yang harus diterima dengan penuh tanggung jawab.
Jika dipikirkan lebih jauh, perjalanan sejauh
74 kilometer setiap hari tidak hanya meninggalkan rasa lelah secara fisik. Di
balik setiap kilometer yang saya tempuh, terdapat banyak pelajaran hidup yang
sangat berharga.
Pelajaran pertama adalah
pentingnya manajemen waktu. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk menghargai
setiap menit yang dimiliki. Keterlambatan beberapa menit saja dapat memengaruhi
seluruh aktivitas sepanjang hari.
Pelajaran kedua adalah
tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Jarak yang jauh menuntut saya untuk
konsisten menjalani rutinitas, menjaga kondisi kendaraan, serta mempersiapkan
segala sesuatu dengan baik sebelum berangkat.
Pelajaran ketiga adalah
refleksi diri. Saat berkendara, saya memiliki banyak waktu untuk berpikir,
mengevaluasi diri, serta membayangkan masa depan yang ingin diwujudkan. Dalam
perjalanan itulah saya sering merenungkan tujuan hidup, cita-cita, dan berbagai
langkah yang harus ditempuh untuk mencapainya.
Sering kali saya
membayangkan suatu hari dapat berdiri di gedung wisuda dengan mengenakan toga
kelulusan. Saya membayangkan senyum bangga kedua orang tua yang selama ini
tidak pernah berhenti memberikan dukungan, doa, dan semangat. Saya juga
membayangkan bagaimana ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan dapat
menjadi bekal untuk meraih pekerjaan yang layak dan kehidupan yang lebih baik.
Bayangan-bayangan
sederhana itulah yang selalu menjadi sumber semangat ketika rasa lelah mulai
menguasai diri. Harapan tentang masa depan mampu mengubah perjalanan panjang
yang melelahkan menjadi langkah-langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar.
Bagi sebagian orang,
menempuh perjalanan sejauh 74 kilometer setiap hari demi kuliah mungkin
terdengar berlebihan. Tidak sedikit yang bertanya mengapa saya tidak memilih
untuk tinggal di kos yang lebih dekat dengan kampus. Jawabannya sederhana. Saya
memilih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa laju karena berbagai pertimbangan
ekonomi dan keluarga yang saya miliki.
Setiap kilometer jalan
yang saya lalui dari Sumpiuh hingga Purwokerto menyimpan cerita tersendiri. Ada
cerita tentang perjuangan melawan rasa malas, cerita tentang kesabaran saat
menghadapi kemacetan, dan cerita tentang harapan yang terus dijaga agar tidak
padam oleh keadaan.
Melalui pengalaman di
jalan raya ini, saya memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh
kecerdasan akademik. Keberhasilan juga membutuhkan ketekunan, kedisiplinan,
tanggung jawab, dan kemauan untuk terus melangkah meskipun menghadapi berbagai kesulitan.
Jalan raya telah mengajarkan saya cara menghargai waktu, menjaga fokus, dan
bertahan dalam situasi yang penuh tantangan.
Pada akhirnya,
perjalanan sejauh 74 kilometer setiap hari bukan lagi sekadar rutinitas. Jalan
yang membentang dari Sumpiuh menuju Purwokerto telah menjadi bagian penting
dari perjalanan hidup saya. Di sanalah usaha, doa, harapan, dan mimpi-mimpi
saya ditempa setiap hari.
Setiap kilometer yang
berhasil saya lalui memberikan pelajaran bahwa keberhasilan tidak lahir dari
jalan yang selalu mudah dan nyaman. Keberhasilan lahir dari keberanian untuk
terus melangkah, menghadapi tantangan, serta bertahan dalam setiap proses yang
dijalani..
Kelak, ketika saya berhasil mencapai tujuan yang dicita-citakan, saya yakin akan menoleh ke belakang dan tersenyum mengingat setiap perjalanan yang pernah dilalui. Saya akan mengenang setiap jengkal aspal sebagai bagian penting dari proses menuntut ilmu. Sebab, dari jalanan itulah saya belajar sebuah kebenaran sederhana: jika seseorang berani memiliki impian yang besar, maka ia juga harus berani membayar harga yang setimpal melalui perjuangan yang besar pula.
Penulis :
Fadli Uli Dhuha (Mahasiswa Prodi Tadris Matematika UIN Saizu Purwokerto), lahir di Banyumas, 22 November 2006. Alamat rumah di Desa Kemiri, Sumpiuh, Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. instagram @fadli_dhuha atau ulifadli540@gmail.com