Notification

×

Pejuang Laju: Cerita di Balik Jarak 74 Kilometer

Senin, 22 Juni 2026 | 23.17 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-22T16:17:36Z

 Pejuang Laju: Cerita di Balik Jarak 74 Kilometer

    Sumpiuh – Purwokerto, banyak orang menganggap bahwa perjuangan seorang mahasiswa hanya berkisar pada  mendengarkan dosen di kelas, mengerjakan tugas yang numpuk, atau begadang untuk mempersiapkan ujian. Padahal, bagi Sebagian mahasiswa, perjuangan telah dimulai jauh sebelum mereka melangkahkan kaki ke lingkungan kampus. Bahkan, sebelum dosen pertama memasuki ruang perkuliahan dan memulai pembelajaran. Saya termasuk salah satu mahasiswa yang merasakan perjuangan tersebut setiap hari.

Rumah saya berada di Kecamatan Sumpiuh, sedangkan kampus tempat saya menempuh Pendidikan berada di Purwokerto. Jarak satu kali perjalanan mencapai sekitar 37 kilometer. Jika dihitung pulang-pergi, total jarak yang mesti saya tempuh setiap hari mencapai 74 kilometer. Bagi Sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya deretan angka yang tertera pada aplikasi peta digital atau odometer kendaraan. Namun, bagi saya, angka tersebut merupakan saksi bisu dari sebuah proses penjang yang harus dilalui demi menuntut ilmu dan meraih masa depan yang lebih baik.

rutinitas ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak dapat saya hindari. Ketika Sebagian besar teman kuliah masih beristirahat di rumah atau baru memulai aktifitas pagi, saya sudah siap untuk berangkat. Saat matahari mulai menampakan sinarnya, saya memanaskan sepeda motor, mengenakan jaket, sarung tangan, dan helm, lalu memulai perjalanan menuju kampus.

Ketika roda kendaraan mulai meninggalkan halaman rumah, suasana pedesaan Sumpiuh yang masih tenang menjadi pemandangan pertama yang menyambut saya. Udara pagi yang sejuk terasa menyegarkan. Hamparan sawah yang membentang di sisi kanan dan kiri jalan menghadirkan panorama yang menenangkan. Sesekali, kabut tipis masih terlihat menggantung di atas permukaan tanah. Pemandangan tersebut memberikan kesan seolah saya sedang menikmati perjalanan wisata. Namun, di balik keindahan itu, saya sadar bahwa perjalanan panjang dan berbagai tantangan telah menanti di depan.  

Salah satu tantangan yang harus saya hadapi setiap hari adalah jalur Alasmalang. Bagi para pengguna jalan yang sering melintas di kawasan tersebut, nama Alasmalang tentu sudah tidak asing lagi. Jalur ini dikenal memiliki tanjakan yang cukup curam, tikungan yang berliku, dan tingkat risiko kecelakaan yang relatif tinggi. Oleh karena itu, konsentrasi penuh menjadi syarat utama ketika melintasi kawasan tersebut. Tidak boleh ada sedikit pun kelengahan. Tangan harus sigap mengendalikan gas dan rem, sementara mata terus memperhatikan kondisi lalu lintas di sekitar. Kendaraan yang berjalan lambat, pengendara yang mendahului secara tiba-tiba, maupun kendaraan dari arah berlawanan yang terkadang melewati marka jalan harus selalu diwaspadai. Selain itu, saya juga harus memastikan bahwa kondisi sepeda motor dalam keadaan prima, mulai dari sistem pengereman, rantai, hingga tekanan ban. Kesalahan kecil saja dapat berakibat fatal. Karena itulah, saya menganggap Alasmalang sebagai ujian pertama sebelum benar-benar duduk di bangku perkuliahan.

Setelah berhasil melewati Alasmalang, suasana perjalanan berubah secara drastis ketika memasuki kawasan Pasar Muria. Ketenangan pagi perlahan berganti dengan hiruk-pikuk aktivitas masyarakat. Jalanan menjadi lebih padat oleh kendaraan para pedagang, pembeli, dan pengguna jalan lainnya. Terkadang ada kendaraan yang berhenti mendadak, pejalan kaki yang menyeberang tanpa diduga, atau kemacetan yang muncul akibat padatnya aktivitas pasar.

Meski demikian, pemandangan tersebut justru memberikan pelajaran berharga bagi saya. Melihat banyak orang yang bekerja keras sejak pagi untuk mencari nafkah membuat saya semakin bersyukur dan termotivasi untuk menjalani hari dengan penuh semangat. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam menjalani kehidupan.

Dari Pasar Muria, perjalanan berlanjut menuju Alun-Alun Banyumas hingga akhirnya saya tiba di salah satu bagian perjalanan yang paling saya sukai, yaitu Jembatan Serayu. Bagi saya, melintasi jembatan ini selalu menghadirkan ketenangan tersendiri. Dari atas jembatan, saya dapat melihat aliran Sungai Serayu yang membentang luas. Pada pagi hari, cahaya matahari yang memantul di permukaan air menciptakan pemandangan yang indah dan menyejukkan mata.

Meskipun hanya berlangsung beberapa saat karena perjalanan harus terus dilanjutkan, momen tersebut selalu menjadi jeda yang menyegarkan. Setelah melewati ketegangan di Alasmalang dan kepadatan lalu lintas di kawasan pasar, pemandangan Sungai Serayu seolah mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan yang melelahkan selalu memiliki sisi indah yang patut dinikmati.

Setelah meninggalkan Jembatan Serayu, perjalanan berlanjut menuju Patikraja. Di wilayah ini, volume kendaraan mulai meningkat karena semakin banyak pengguna jalan yang menuju Purwokerto. Jalan yang semakin ramai menuntut kesabaran dan kewaspadaan yang lebih tinggi. Setelah melewati beberapa persimpangan dan kepadatan lalu lintas perkotaan, akhirnya bangunan kampus mulai terlihat di kejauhan. Saat itulah muncul perasaan lega karena satu tahap perjalanan telah berhasil saya lalui.

Dalam kondisi cuaca cerah dan lalu lintas yang normal, perjalanan sejauh 37 kilometer biasanya dapat ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit. Namun, kondisi jalan raya tidak selalu dapat diprediksi. Kemacetan, kecelakaan, maupun cuaca buruk sering kali membuat waktu tempuh menjadi lebih lama.

Tantangan terbesar biasanya datang ketika hujan turun secara tiba-tiba. Saya harus menepi untuk mengenakan jas hujan sambil berusaha melindungi barang bawaan agar tidak basah. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan dengan lebih hati-hati karena jalan menjadi licin dan jarak pandang berkurang. Belum lagi adanya genangan air yang dapat menyembunyikan lubang jalan. Dalam kondisi seperti itu, waktu tempuh perjalanan dapat bertambah hingga lebih dari satu setengah jam.

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa laju tentu bukan hal yang mudah. Tidak jarang rasa lelah sudah terasa bahkan sebelum perkuliahan dimulai. Ketika berada di dalam kelas, saya harus berusaha menjaga fokus meskipun energi telah banyak terkuras selama perjalanan.

Begitu pula ketika sore hari tiba. Setelah mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan mengikuti berbagai kegiatan organisasi, saya masih harus menempuh perjalanan panjang untuk kembali ke rumah. Terik matahari, debu jalanan, serta kepadatan lalu lintas sering kali menjadi tantangan tambahan yang harus dihadapi.

Namun, setiap kali keluhan mulai muncul, saya selalu berusaha mengingat alasan mengapa memilih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa laju. Salah satu alasannya adalah agar tetap dapat tinggal bersama keluarga dan mengurangi beban biaya hidup yang harus dikeluarkan apabila memilih indekos. Pilihan tersebut tentu memiliki konsekuensi yang harus diterima dengan penuh tanggung jawab.

 Jika dipikirkan lebih jauh, perjalanan sejauh 74 kilometer setiap hari tidak hanya meninggalkan rasa lelah secara fisik. Di balik setiap kilometer yang saya tempuh, terdapat banyak pelajaran hidup yang sangat berharga.

Pelajaran pertama adalah pentingnya manajemen waktu. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk menghargai setiap menit yang dimiliki. Keterlambatan beberapa menit saja dapat memengaruhi seluruh aktivitas sepanjang hari.

Pelajaran kedua adalah tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Jarak yang jauh menuntut saya untuk konsisten menjalani rutinitas, menjaga kondisi kendaraan, serta mempersiapkan segala sesuatu dengan baik sebelum berangkat.

Pelajaran ketiga adalah refleksi diri. Saat berkendara, saya memiliki banyak waktu untuk berpikir, mengevaluasi diri, serta membayangkan masa depan yang ingin diwujudkan. Dalam perjalanan itulah saya sering merenungkan tujuan hidup, cita-cita, dan berbagai langkah yang harus ditempuh untuk mencapainya.

Sering kali saya membayangkan suatu hari dapat berdiri di gedung wisuda dengan mengenakan toga kelulusan. Saya membayangkan senyum bangga kedua orang tua yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan dukungan, doa, dan semangat. Saya juga membayangkan bagaimana ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan dapat menjadi bekal untuk meraih pekerjaan yang layak dan kehidupan yang lebih baik.

Bayangan-bayangan sederhana itulah yang selalu menjadi sumber semangat ketika rasa lelah mulai menguasai diri. Harapan tentang masa depan mampu mengubah perjalanan panjang yang melelahkan menjadi langkah-langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar.

Bagi sebagian orang, menempuh perjalanan sejauh 74 kilometer setiap hari demi kuliah mungkin terdengar berlebihan. Tidak sedikit yang bertanya mengapa saya tidak memilih untuk tinggal di kos yang lebih dekat dengan kampus. Jawabannya sederhana. Saya memilih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa laju karena berbagai pertimbangan ekonomi dan keluarga yang saya miliki.

Setiap kilometer jalan yang saya lalui dari Sumpiuh hingga Purwokerto menyimpan cerita tersendiri. Ada cerita tentang perjuangan melawan rasa malas, cerita tentang kesabaran saat menghadapi kemacetan, dan cerita tentang harapan yang terus dijaga agar tidak padam oleh keadaan.

Melalui pengalaman di jalan raya ini, saya memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik. Keberhasilan juga membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus melangkah meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Jalan raya telah mengajarkan saya cara menghargai waktu, menjaga fokus, dan bertahan dalam situasi yang penuh tantangan.

Pada akhirnya, perjalanan sejauh 74 kilometer setiap hari bukan lagi sekadar rutinitas. Jalan yang membentang dari Sumpiuh menuju Purwokerto telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya. Di sanalah usaha, doa, harapan, dan mimpi-mimpi saya ditempa setiap hari.

Setiap kilometer yang berhasil saya lalui memberikan pelajaran bahwa keberhasilan tidak lahir dari jalan yang selalu mudah dan nyaman. Keberhasilan lahir dari keberanian untuk terus melangkah, menghadapi tantangan, serta bertahan dalam setiap proses yang dijalani..

Kelak, ketika saya berhasil mencapai tujuan yang dicita-citakan, saya yakin akan menoleh ke belakang dan tersenyum mengingat setiap perjalanan yang pernah dilalui. Saya akan mengenang setiap jengkal aspal sebagai bagian penting dari proses menuntut ilmu. Sebab, dari jalanan itulah saya belajar sebuah kebenaran sederhana: jika seseorang berani memiliki impian yang besar, maka ia juga harus berani membayar harga yang setimpal melalui perjuangan yang besar pula.


Penulis :

Fadli Uli Dhuha (Mahasiswa Prodi Tadris Matematika UIN Saizu Purwokerto), lahir di Banyumas, 22 November 2006. Alamat rumah di Desa Kemiri, Sumpiuh, Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. instagram @fadli_dhuha atau ulifadli540@gmail.com